
Tidak banyak literatur, buku buku, makalah, dan kajian ilmiah lain, yang menulis tentang Desa Santan. Keadaan ini menjadikan Desa Santan jauh dari pemberitaan baik mengenai apa yang sesungguhnya terjadi disana, siapa "aktorintelektualnya", dan lain lain yang sebetulnya sangat penting, menurut saya, untuk dituturkan dengan bahasa sebenarnya. Bisa dipastikan, berita berita atau analisa tentang Desa Santan, apalagi reportase invstigatif, sangat susah ditemui di media massa atau elektronik. Ini kemudian menjadikan Desa Santan semakin tidak dikenali. Contoh, Jika kita tanya orang yang cukup memiliki wawasan kedaerahan tentang, misalnya, Kabupaten Kutai Kertanegara, paling tidak sedikit banyak mereka tau. Tapi coba kita tanya, dimana Desa Santan itu? Atau lebih kasar lagi, cukup dengan kalimat, misalnya, Santan itu dimana? Saya yakin, mereka akan tertawa dahulu baru kemudian menjawab karena mungkin merasa aneh atau lucu dengan kalimat “Santan”.
Dan bisa saja, mereka hanya akan tertawa tanpa ada jawaban yang mengekorinya. Mungkin kesan pertama kali yang lahir ketika orang mendengar pertanyaan tadi adalah kekagetan, makanan apa itu? Kok aneh? Dan lain lain yang aneh aneh. Mengenai kejadian yang dimisalkan ini, jelas saya sangat maklum. Desa Santan yang selama ini tidak menjadi bagian yang menarik (kalau tidak bisa dikatakan penting) untuk di ekspos, adalah jawaban literal yang bisa di ketengahkan.
Walaupun lahir dan membesar disana, saya tidak tahu pasti kenapa kampung ini diberi nama Santan. Dan satu hal yang cukup saya sayangkan, tokoh tokoh selama ini dianggap sebagai pendiri Desa Santan, satu dua mulai kembali ke alam abadi. Sehingga kesempatan atau waktu berbincang bincang dengan mereka yang sedikit itu butuh energi yang tidak sedikit. Namun sedkit banyak, ada beberapa orang dituakan di kampung ini yang sempat saya jambangi walaupun tidak banyak bercerita perihal Desa Santan. Inilah yang menjadi beban moral bagi saya. Saya asli lahir dan besar disana. Ada semacam dentuman emosional yang sangat kuat untuk mengharuskan saya mewacanakan Desa Santan ini kepada khalayak.
Secara geografis, Desa Santan terletak di wilayah dataran rendah. Dengan kondisi seperti ini, Desa ini kerap kali mengalami bencana banjir. Dapat dipastikan, setiap musim pengujan tiba, maka banjir pun akan melanda. Bapak Azwar, salah satu orang yang lahir dan besar disana pernah berkomentar tentang kegetiran yang melanda desa yang juga bertetangga dengan perusahaan emas hitam ini, "Memang sangat memperihatinkan, Saya termasuk orang yang pernah tinggal di Santan bahkan lahir disana. Sejak saya kecil hingga sekarang memang Santan (Ulu-tengah-Ilir)kondisinya tetap saja seperti sekarang (tidak ada perubahan berarti) bahkan lebih parah. Bahkan pemkab Kutai Kartanegara dgn APBD sebesar 5,5 triliun tidak membawa perubahan terhadap keberadaan Santan yang saat ini sangat tertinggal dgn daerah tetangga (Kota Bontang...."
. Komentar mantan guru "kungfu master" saya tersebut saya ambil dari Kompas.com yang dengan sangat baik menulis tentang Desa Santan disini.
Bulan Oktober lalu saya sempat pulang kampung beberapa hari. Ternyata kondisi yang ada tidak jauh berbeda ketika saya tinggalkan tahun 2005 lalu. Jalan Poros untuk masuk ke Desa Santan benar benar sangat mengenaskan. Jika Anda tidak kuat mental untuk terus melanjutkan perjalanan, kembali saja, jangan diteruskan daripada Anda harus berjalan kaki sekian kilo meter. Kendaraan motor apakah tidak bisa di pakai? bisa, tapi cukup di dorong saja. Tidak ada jalanan yang layak untuk kendaraan. Kecuali memang jika kendaraan itu sudah tidak kita sayangi lagi, bolehlah Anda memaksa menyeburkan diri di lumpur lumpur jalanan yang begitu lengket. Ini saya rasakan dan benar benar membuat frustasi. Perjalanan dari Bontang yang biasanya ditempuh hanya dalam waktu satu jam, ini molor sampai dua jam setengah lebih dikit.
Saya pun merasakan apa yang dirasakan Daeng Azwar yang sarjana hukum itu. Dan ALhamdulillah, ini kesyukuran bagi saya dan kita semua tentunya, Azwar yang lahir dan besar di desa tersebut sekarang telah menjadi caleg (Calon Legislatif) di Kota Bontang utusan Partai Pemuda Indonesia nomor urut 2 (dua)daerah pemilihan Bontang Selatan. Besar harapan saya, dan kita semua warga Santan secara khusus, agar beliau bisa menyuarakan jeritan masyarakat Santan yang selama ini tersumbat. Desa Santan memang "masih" masuk di wilayah Kutai Kertanegara, namun tidak ada alasan untuk tidak "berteriak". Desa Santan yang selama ini seolah hanya menjadi anak tiri yang tidak perlu diperhatikan hak dan kebutuhannya, tidak lagi boleh menundukkan kepala, tidak lagi boleh mau dibodohi, dongkakakkan kepala sekarang..!!!
Sebagian orang mungkin menilai subjektif perkara ini. Terserah mereka. Saya hanya tidak mau uang yang sebenarnya harus dinikmati bersama dan gunakan untuk pembangunan malah digasak segelintir orang yang berkepentingan. Masyarakat hanya menjadi objek yang selalu di exploitir. Wajarlah kalau kemudian tindakan yang demikian mendapat umpan balik dari masyarakat. Yang sudah cukup tercerahkan, diharapkan bisa memberikan penjelasan. sekali lagi, ini bukan subjektifitas, namun kenyataan yang ada sepertinya susah untuk dielakkan kebenarannya.
Dibutuhkan konsolidasi dari segenap tokoh masyarakat, pemuda, dan unsur yang lebih diatasnya untuk membuat kesepahaman bersama terkait kondisi Santan dewasa ini yang tidak mengalami perubahan secara universal. Banyak hal yang perlu di angkat untuk menjadi isu nasional, terkhusus di wilayak Kutai Kertanegara. Bagi rekan rekan, pelajar, mahasiswa, dan anak anak Santan dimana saja berada yang mungkin sempat membaca tulisan ini, berikan masukan dan sarannya. Tanpa kerjasama dan kesatuan orientasi, susah untuk menuju suatu pengharapan. Tulisan ini berkelanjutan, silahkan bagi analisa Anda pada kami karena kami bukan orang yang pakar dalam hal ini. Dari semua, sekali lagi, kami mengharap dukungannya.
Ket: Gambar di ambil dari Kompas.com
Lanjut membaca “DESA SANTAN [Part I]” »»
DESA SANTAN [Part I]
Ainuddin, 30 November 2008MAMPUKAH BARACK OBAMA?
Ainuddin, 27 November 2008
Elba Damhuri, wartawan Republika, dalam analisa opininya di HU Republika 26/11/2008 melansir hasil riset Dewan Intelejen Nasional AS (NIC) belum lama ini tentang kepemimpinan global Amerika. Dinyatakan dalam perkiraan itu bahwa dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Pada sisi lain dunia akan melihat kekuatan baru: China, Rusia, dan India.
Pada dasawarsa 1980 kalangan ilmuan dan peneliti internasional, seperti apa yang diungkapkan Damhuri, telah berdebat hebat tentang posisi AS. Jatuhnya sistem Bretton Woods dan dilepasnya dolar AS bukan sebagai “mata uang tunggal internasional”, mereka indikasikan sebagai tanda jatuhnya hegemoni AS dalam politik global. Apakah hegemoni dan superioritas AS akan benar benar limbung disaat krisis global kini?
Masih dalam analisa tersebut, Damhuri menggunakan sudut pandang yang menurutnya cukup komprehensif dalam melihat persoalan ini, yakni argumen pendekatan kekuasaan struktural ala Susan Strange, profesor politik ekonomi di London School of Economics. Kata Strange, untuk melihat kekuasaan global AS tidak lagi bisa dilihat dari pendekatan relational power. Artinya, dominasi sebuah negara tidak lagi bisa dijamah dengan melihat perintah perintah. Sebagai contoh, sudah bukan zamannya lagi AS, misalnya, memaksa Iran atau Arab Saudi untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional.
Strange kemudian memperkenalkan suatu pendekatan baru yakni, pendekatan struktural (structural power) yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada empat kekuatan struktural yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui apakah sebuah negara memiliki kekuasaan global atau tidak. Keempat kekuatan itu saling mendukung dan terintegrasi membentuk satu pengaruh yang melahirkan negara adikuasa dan hegemonif. Keempatnya adalah kekuasaan produksi, keuangan, militer, dan pengetahuan.
Saya tidak akan membahas satu persatu keempat pendekatan tersebut. Pada dasarnya dan ini menjadi kesimpulan dari keempat pendekatan tersebut, bahwa AS bisa dikatakan masih menjadi adikuasa dan hegemoni hingga hari ini.Damhuri meyakini, AS akan bisa tetap memegang kekuatan struktural untuk mendominasi dunia hingga 20 tahun kedepan. Strange juga percaya jika keempatnya masih dimiliki AS, meski saat ini krisis besar menghantam negara itu dan seluruh dunia terkena dampak tentunya.
AS adalah negara yang kerap mengalami situasi situasi buruk seperti saat ini. Sejak era 1970-an, AS mengalami defisit neraca pembayaran dan terus naik di era pemerintahan Ronald Reagan. AS pernah hancur dalam Perang Vietnam dan beberapa konflik internasional di Afrika dan Asia. Namun semua itu bisa diatasi dengan baik meski ada gejolak disana sini. Hal ini sama sekali tidak menghilangkan peran AS sebagai pusat kekuasaan dunia walaupun pada saat itu banyak kalangan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era jatuhnya hegemoni AS.
Hampir semua negara terkena dampak krisis global ini, apalagi negara negara yang sudah sekian lama memiliki independensi produk atau impor ke negara Paman Sam. Indonesia dalam hal ini, tentu juga ikut merasakan kondisi yang sama. Menurut saya, pelaku pasar dan modal yang bermain di sektor internal atau yang lebih memfokuskan fragmentasi produk dan pasarnya kedalam negeri relatif akan berada pada comfort zone, dia tidak akan terkena dampak berarti dari krisis global ini. Artinya, pemain saham atau modal yang lebih dominan untuk berinvestasi diluar negeri, khususnya Amerika, pasti akan sangat terpukul dengan situasi ini. Kenapa? Jelas, perusahaan domestik yang selama ini menggantungkan impor dan sahamnya kepada AS tentu akan terkena imbas krisis yang bermula dari AS ini. Bangkrutnya Lehman Brother (LB), perusahaan asuransi terbesar keempat di AS, misalnya, akan berpengaruh signifikan terhadap jasa asuransi yang berada di Indonesia yang selama ini menjadikan LB sebagai andalan pasokan modal,dll.
Kembali ke awal. Apakah memang AS akan mengalami kemunduran total akibat dampak krisis ini? Ataukah mungkin kemudian AS akan tetap bertahan menjadi negara super power hingga 20 tahun mendatang seperti yang apa yang diestimasi oleh Damhuri ?. Ini saya pikir sangat menarik dan keterkaitan dengan pertanyaan pertanyaan itu, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sekarang banyak orang yang berharap pada presiden terpilih AS, Barack Obama, untuk berkreasi menyelesaikan “kiamat” ini. Ataukah kemudian dunia akan benar benar akan mengalami Armageddonisasi?
Ainuddin
26/11/2008 (Saat Tak Ada Kesibukan Lain)
Lanjut membaca “MAMPUKAH BARACK OBAMA?” »»
KEGELISAHAN
Ainuddin, 20 November 2008
Kegoncangan manusia akan kemarutnya situasi dunia saat ini telah melahirkan dampak yang cukup krusial. Antara lain indikatornya adalah aspek religiusitas, yang merupakan kebutuhan dasar manusia, telah terkungkung di dalam kegelisahan yang tampak tak berkesudahan. Lahirnya bentuk anarkisme, tindakan vandalistik, dan ringanya tangan membunuh manusia, adalah sedikit akibat dari sekian banyak tumpukan tekanan emosional dan psikis yang timbul akibat kegoncangan iman ini.
Manusia seolah telah sangsi dengan janji janji. Agama sebagai wujud konkrit untuk menuju pengharapan akan ketenangan bathin itu telah di teronggok masuk ke tong sampah. Menurutnya, agama dengan beragam kitab sucinya hanyalah candu kehidupan. Realitas bahwa manusia sebetulnya membutuhkan sandaran kepada sesuatu yang bisa dijadikan harapan menuju titik ketenangan hati itu dan ini kita yakini bukan sebagai wujud interaksi interdependensial antara manusia dengan Tuhan, telah menjadi segepok harapan yang tidak lagi diyakini memiliki pengaruh ekstatif penenang jiwa tapi justru hanya menjadi narasi retoris bibir belaka yang sangat utopis.
Kerengkeng akan tujuan tujuan pragmatis mungkin telah mengidap manusia. Tentu tanpa saya bermaksud menggeneralisir opini ini, pragmatisme inilah yang kemudian melahirkan kontestasi yang luar biasa antar anak manusia. Sehingga representasi akronim homo sapiens, manusia adalah binatang berfikir, nyata telah dipertontonkan. Homo sapeins adalah gambaran details sesungguhnya manusia itu. Watak kebinatangan memang telah ada dalam gaya hidup manusia sejak awal penciptaannya. Inilah kelak yang kemudian memunculkan saling adu otot dan adu kuat untuk memperebutkan posisi posisi, kekuasaan kekuasaan, jabatan jabatan, kursi kursi, tunjangan tunjangan, harta benda dan juga wanita wanita.
Akibat lain dari lemahnya resistensi iman ini banyak melahirkan pengertian pengertian baru tentang tuhan. Definisi definisi tentang Tuhan, kata mereka (para penelur pengertian itu), adalah hasil dari olah logika dan kontemplasi yang mendalam. Sehingga kemudian lahirlah, misalnya, defenisi bahwa Tuhan adalah figur kabur yang tidak bisa teridentifikasi dengan abstraksi intelektual. Dan masih banyak pengertian lain tentang Tuhan yang sebetulnya tidak memberikan pengertian. Tapi justru pengertian pengertian itu kemudian melahirkan ketidakmengertian defenisi akan hakikat Tuhan yang sesungguhnya. Maaf, Saya sedang tidak mengajak Anda untuk masuk ke wilayah ini. Saya kira, cukup sampai disini saya mengantar Anda
Akhirnya, saya sudahi saja tulisan ini walaupun relatif tidak sistematis. Pada tulisan ini, Saya tidak bermaksud memberi pelajaran justru sebaliknya, saya ingin belajar lagi dan lagi. Kita akui bahwa ketidaktenangan, rasa waswas, pesimis, inferiori, dan lemah iman memang kerap juga kita rasakan walaupun kita sudah yakin bahwa doa doa kepada Tuhan telah di dengar-Nya. Tapi tetaplah lanjutkan munajat pada-Nya hingga batas akhir masing masing kita ditentukan-Nya.
Ain
Jakarta, 20112008
Lanjut membaca “KEGELISAHAN” »»





